Jumat, 01 Juni 2012

PROSA FIKSI, CERPEN, DAN DRAMA

A.KAJIAN PROSA FIKSI
Oleh: Hafidah

a.Makna Kata Kajian, Prosa, Fiksi, dan Kajian Prosa Fiksi
1.Makna kajian
  1. Kata kajian berasal dari kata “kaji” yang berarti (1) pelajaran; (2) penyelidikan (tentang sesuatu). Bermula   dari pengertian kata dasar yang demikian, kata kajian menjadi suatu “proses, cara, perbuatan mengkaji; penyelidikan (pelajaran yang mendalam); dan penelaahan (KBBI, 1999: 431).”
  2. Kajian adalah suatu penelitian, penafsiran, dan penilaian dengan kata lain adalah “analysis”. (Yantofdl, 2009)
  3. Kajian adalah proses rasionalisasi dan pembuktian empirik terhadap kepercayaan/ketidakpercayaan menjadi pemahaman/ilmu pengetahuan. (Panji Prabowo, 2009)
  4. Kajian biasa juga disebut telaah. Kajian adalah hasil dari mengkaji. Dimana, makna dari mengkaji adalah mempelajari, menyelidiki, memeriksa, mempertimbangkan, dan menelaah. Jadi, makna dari kajian adalah hasil dari mempelajari, hasil dari menyelidiki, hasil dari mempertimbangkan, dan hasil dari menelaah sesuatu. (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia; Media Centre)

2.Makna prosa
  1. Prosa merupakan bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi (Amir, 2010).
  2. Kata prosa berasal dari bahasa latin “prosa”  yang artinya “terus terang”. Menurut Ardi Yudi Pradana, prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi irama yang dimilikikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya.
  3. Prosa adalah hasil karya sastra yang bersifat paparan/berbentuk cerita. prosa sering disebut karangan bebas karena tidak mengandung rima dan irama seperti halnya puisi.

3.Makna fiksi
  1. Fiksi artinya cerita rekaan atau cerita khayalan (Nurgiantoro, 2007: 2). Isinya tidak menyarankan pada kebenaran sejarah. Istilah fiksi sering dipertentangkan dengan realitas. Tokoh, peristiwa, dan tempat dalam fiksi adalah rekaan imajinatif pengarang. Namun demikian, cerita, tokoh dan latar rekaan pengarang itu dibuat seakan-akan benar adanya dalam dunia  nyata dan masuk akal dalam hubungan-hubungan kehidupan manusia.
  2. Menurut Sudjiman (1984: 17), fiksi atau ceritera rekaan adalah kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi dalam ragam prosa.
  3. Abrams menyebutkan bahwa fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran.
  4. Menurut Altenbernd dan Lewis, fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

4.Makna kajian prosa fiksi
  1. Prosa fiksi adalah kisahan atau ceritera yang di emban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya, sehingga menjalin suatu ceritera. (Aminuddin, 2002: 66)
  2. M. Saleh Saad dan Anton M. Muliono (dalam Tjahyono, 1988:106) mengemukakan pengertian prosa fiksi (fiksi, prosa narasi, narasi, ceritera berplot, atau ceritera rekaan disingkat cerkan) adalah bentuk ceritera atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
  3. Kajian prosa fiksi adalah kegiatan memahami teori, menganalisis, mengkaji, menentukan, atau mendapatkan nilai atau objek tertentu yang tidak diketahui dalam pengkajian prosa fiksi dan memenuhi kondisi syarat yang sesuai dengan pengkajian prosa fiksi. Hal ini harus dipahami serta dikenali dengan baik pada saat menbgkaji prosa fiksi (Halimah, 2009: 1).
  4. Dari pendapat para ahli di atas, maka kesimpulnya bahwa yang dimaksud dengan kajian prosa fiksi adalah kegiatan menganalisis, mengkaji, menelaah, menyelidiki, dan menentukan objek-objek di dalam sebuah prosa sehingga kita dapat menilai dan mengelompokan prosa berdasarkan bentuk dan gendrenya.

b.Unsur-unsur Prosa Fiksi
1.Unsur-unsur Intrinsik
             Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik prosa fiksi, antara lain:
1)Tema
  1. Tema merupakan gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam dan melalui karya fiksi (Suminto A. Sayuti, 2000: 187).
  2. Tema adalah makna yang di kandung oleh sebuah cerita (Stanton, 1965: 20 dan Kenny, 1966: 88).
  3. Tema adalah makna yang dapat merangkum semua elemen dalam cerita dengan cara  yang paling sederhana ( Robert Stanton, 2007: 41).
  4. Tema adalah dasar cerita persoalan pokok yang menjadi bahan utama cerita (Molek Yuniarsih, Artikel Bahasa Indonesia).
  5. Tema diartikan sebagai makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana. Tema kurang lebih dapat bersinonim dengan ide utama (central idea) dan tujuan (central purpose). (Stanton, 1965: 21)
  6. Tema merupakan gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu cerita rekaan. Tema terasa mewarnai cerita dari awal sampai akhir. Tema pada hakikatnya adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu. (Siti Fatimah, 2010, http://indonesiategalfatimah.blogspot.com).
  7. Tema adalah gagasan ide/pikiran utama di dalam sebuah karya sastra. (Ishardianti Rachman Sintia Karin, 2009)
  8. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
  9. Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. (Li2010, http://liandydy.blogspot.com)
  10. Tema adalah gagasan utama atau pikiran pokok sebuah karya sastra (Tarigan,2002: 7).
  11. Menurut Sudjiman (2002: 50) bahwa yang disebut “tema ialah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari karya sastra.

2)Plot ( Alur cerita)
  1. Plot adalah struktur gerak atau laku yang terdapat dalam fiksi atau drama. (Brooks dan warren dalam Tarigan, 2002: 126).
  2. Rene wellek berpendapat bahwa plot itu merupakan struktur penceritaan.
  3. Hudson berpendapat bahwa plot itu merupakan rangkaian kejadian dan perbuatan, rangkaian hal yang dikerjakan, diderita oleh tokoh dalam cerita.
  4. Putu Arya Tirtawirya berpendapat bahwa plot itu, semacam selokan yang otomatis tergali dalam benak pengarang tempat menyalurkan peristiwa-peristiwa yang membanjir selaku imajinasi pengarang dikala memperoleh karunia inspirasi.
  5. M. Saleh Saad  mengatakan bahwa plot itu adalah sambung sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab-akibat atau kausalitas, plot tidak hanya mengemukakan  apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah  menjelaskan mengapa hal itu  terjadi.
  6. Alur yaitu rangkaian peristiwa/jalinan cerita dari awal sampai klimaks, serta penyelesaian. (Ishardianti Rachman Sintia Karin, 2009)
  7. Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa lain. (Stanton, 1965: 14)
  8. Alur sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilakn dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan kaitan sebab-akibat. (Kenny, 1966: 14)
  9. Alur adalah peristiwa-peristiwa yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. (Forster, 1970 (1927): 93)
  10. Alur cerita sebuah fiksi menyajikan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian kepada pembaca, tidak hanya sifat kewaktuan atau temporalnya, tetapi juga dalam hubungan-hubungan yang sudah diperhitungkan (Suminto A. Sayuti, 2000: 30)

3)Tokoh dan Penokohan
  1. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita ( Burhan Nurgiyantoro, 2007: 165).
  2. Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam cerita. tokoh pada umumnya berwujud manusia, meskipun dapat juga berwujud binatang, atau benda yang diinsankan. Tokoh dalam cerita rekaan brsifat fiktif.  (Siti Fatimah, 2010, http://indonesiategalfatimah.blogspot.com).
  3. Tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa/kejadian dalam berbagai peristiwa cerita. (Amarylli, 2009, http://motivasik.multiply.com)
  4. Tokoh adalah plot dan plot adalah tokoh. Bahkan tokoh sebenarnya lebih penting daripada plot, kata Josip. Dari sosok tokoh, plot mudah berkembang. Jika berhasil menciptakan tokoh yang meyakinkan. (2009, http://iwriter.bahtiarhs.net)
  5. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. ( Jones, 1968: 33)
  6. Penokohan adalah pelaku utama dan sampingan dengan segala perilakunya.( Molek Yuniarsi, Artikel Bahasa Indonesia)
  7. Penokohan adalah pemberian watak terhadap pelaku-pelaku cerita dalam sebuah karya sastra.(Ishardianti Rachma Sintia Karin 2009, http://www.authorstream.com/Presentation)
  8. Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. (Lia, 2010, http://liandydy.blogspot.com)
  9. Tokoh adalah pelaku di dalam cerita. berdasarkan peranannya, tokoh dapat dibagi menjadi tokoh utama, tokoh bawahan, dan tokoh tambahan. Penokohan yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh cerita. (http://istayn.staff.uns.ac.id/files.

4)Amanat
  1. “Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.”   (Sudjiman, 2002 : 57).
  2. Amanat merupakan kecenderungan dan keinginan pengarang yang disalurkan melalui tokoh-tokoh ceritanya, biasanya amanat mengesankan niat pengarang yang hendak menggurui pembaca. Amanat bisa berupa kata-kata mutiara, firman dan lainnya sebagai petunjuk untuk memberi nasehat. Amanat merupakan bagian yang tidak bisa di pisahkan dan merupakan bagian yang integral dari unsur-unsur karya sastra lainnya.

5)Latar/ setting
  1. Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan ruang, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita rekaan.(Siti Fatimah, 2010, http://indonesiategalfatimah.blogspot.com).
  2. Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. (Lia, 2010, http://liandydy.blogspot.com)
  3. Latar/setting yaitu bagian dari sebuah prosa yang isinya melukiskan tempat terjadinya cerita dan menjelaskan kapan cerita itu berlaku. (Ishardianti   Rachma   Sintia   Karin   2009, http://www.authorstream.com/Presentation).
  4. Latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta suasana yang ada dalam cerita. latar tempat terdiri dari tempat yang dikenal, tempat tidak dikenal, serta tempat yang hanya ada dalam khayalan. (2010, http://istayn.staff.uns.ac.id/files)
  5. Sebuah cerita pada hakikatnya ialah peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Menurut Nadjid (2003: 25) latar ialah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi. (2009, smpn3yk.sch.id/lampiran_guru)
  6. Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. ( Abrams, 1981: 175)
  7. Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud dekor dan juga dapat berwujud waktu tertentu. (Robert Stanton, 2007: 35).
  8. M. Atar Semi (2004: 46) berpendapat bahwa latar atau landasan tumpu (setting) adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi.
  9. Liberatu Tengsoe Tjahjono (1997: 143) mengatakan bahwa latar atau setting dalam cerita adalah tempat, waktu, atau keadaan alam atau cuaca terjadinya suatu peristiwa.
  10. Tarigan (2002: 136) berpendapat bahwa latar atau setting adalah latar belakang fiksi, unsur tempat dan ruanag adalah sebuah cerita.

6)Sudut Pandang
  1. Sudut pandang adalah cara pengarang untuk menetapkan siapa yang akan mengisahkan ceritanya, yang dapat di pilh dari tokoh atau dari narator.(2010, http://istayn.staff.uns.ac.id/files).
  2. Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja di pilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. (2009, smpn3yk.sch.id/lampiran_guru )
  3. Sudut pandang (point of view) yang hanya mempermasalahkan siapa yang bercerita, merupakan pilihan atau ketentuan pengarang yang akan berpengaruh sekali dalam menentukan corak dan gaya cerita yang diciptakannya. (Suminto A. Sayuti, 2000: 157)
  4. Sudut pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi atau prosa kepada pembaca. (Abrams, 1981: 142)

7)Gaya Bahasa
  1. Gaya diambil dari istilah bahasa inggris “style” yang berasal dari bahasa latin “stilus” yang memiliki arti dasar alat untuk menulis. Sedangkan secara konsepsional, gaya berarti cara, teknik, maupun bentuk yang digunakan pengarang untuk menyampaikan gagasan dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis, serta mampu menciptakan nuansa makna dan perasaan pembaca. Gaya sesungguhnya merupakan perwujudan pribadi pengarangnya, sehingga masing-masing pengarang itu selalu memiliki gaya tersendiri yang berbeda dengan gaya pengarang lainnya.
  2. Sementara itu, M. Atar Semi (2004: 47) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “gaya adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa.” Tingkah laku berbahasa ini merupakan suatu sarana sastra yang amat penting. Tanpa bahasa, tanpa gaya bahasa, sastra tidak ada. Betapapun dua atau tiga orang pengarang, mengungkapkan suatu tema, alur, karakter, atau latar yang sama, hasil karya mereka akan berbeda bila gaya bahasa mereka berbeda.

2.Unsur-unsur Ekstrinsik
          Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian, unsur-unsur ekstrinsik cukup berpengaruh.
          Nurgiantoro (2007: 23) menyebutkan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra itu sendiri. Wallek dan Warren dalam Nurgiantoro (2007: 24) mengemukakan bahwa unsur ekstrinsik itu antara lain:
1) Biografi pengarang: agama, pendidikan, aliran/paham, filsafat, dan psikologi.
2) Latar belakang budaya: budaya yang dipakai dalam cerita.
3) Latar belakang sosial: tempat disusunnya cerita.
4) Keadaan zaman: waktu disusunnya cerita.

c.Jenis Karya Prosa Fiksi
              Jenis karya prosa fiksi, yaitu:
1.Cerita Pendek (cerpen)
            Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa, yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan dan menyenangkan, dan mengandung pesan yang tak mudah dilupakan.
              Cirri-ciri cerpen, yaitu:
a) Ceritanya singkat, pendek, padat, dan berarti.
b) Panjang karangan kurang lebih 3-10 halaman (kurang dari 10.000 kata).
c) Habis dibaca sekali duduk (1,5-2 jam).
d) Beralur tunggal.
e) Sumber cerita dari kehidupan sehari-hari, baik pengalaman sendiri maupun orang lain.
f)  Penggunaan kata-katanya sangat ekonomis.
g) Penokohannya sangat sederhana, singkat, dan tidak mendalam.
h) Sanggup meningggalkan kesan mendalam dan mampu meninggalkan efek pada perasaan pembaca.
i) Ceritanya fiktif dan rekaan.
j) Pokok ceritanya terfokus pada satu aspek cerita yang menimbulkan aspek dan kesan tunggal.
k) Tokoh-tokoh yang dilukiskan mengalami konflik sampai pada penyelesaian tetapi tidak menimbulkan  perubahan nasib.

2.Novelet
           Di dalam khasanah prosa, ada cerita yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel. Jadi, panjangnya antara novel dan cerpen. Jika dikuantitatifkan, jumlah dan halamannya sekitar 60 s.d 100 halaman. Itulah yang disebut dengan novelet. Dalam penggarapan unsur-unsurnya: tokoh, alur, latar, dan unsur-unsur yang lain, novelet lebih luas cakupannya dari pada cerpen. Namun, dimaksudkan untuk memberi efek tunggal.

3.Novel
          Kata novel berasal dari bahasa Italia “novella”, yang berarti barang baru yang kecil. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Sedangkan menurut Abrams, novel adalah cerita pendek dalam bentuk prosa.
Cirri-ciri novel, yaitu:
a) Menceritakan sebagian kehidupan yang luar biasa.
b) Terjadinya konflik hingga menimbulkan perubahan nasib.
c) Terdapat beberapa alur/jalan cerita.
d) Terdapat beberapa insiden yang mempengaruhi jalan cerita.
e) Perwatakan/penokohan dilukiskan secara mendalam.

4.Roman
            Roman adalah salah satu genre sastra yang menceritakan seluruh kehidupan tokohnya, mulai dari sejak lahir, balita, remaja, dewasa, kawin, tua, dan mati, serta nasibnya (tokoh) berubah total.
Perbedaan antara novel dan cerpen, yaitu:
1)Novel    : terjadi konflik batin
   Cepen    : tidak harus terjadi
2)Novel    : perwatakan digambarkan secara detail
   Cerpen: perwatakan digambarkan secara singkat
3)Novel    : alur lebih rumit
   Cerpen: akhir ceritanya sederhana
4)Novel    : latar lebih luas dan waktunya lebih lama
   Cerpen: latar hanya sebentar dan terbatas
5)Novel    : lebih panjang karangannya
   Cerpen: lebih pendek karangannya
6)Novel    : unsur-unsur cerita dalam novel lebih kompleks dan beragam dibandingkan cerpen
   Cerpen: unsur cerita dalam cerpen relatif sederhana dan pasti tunggal
7)Novel    : novel minimal halamannya 100 halaman
   Cerpen: cerpen maksimal 30 kuarto
8)Novel    : jumlah kata minimal 35.000 kata
   Cerpen: maksimal 10.000 kata
9)Novel    : lama untuk membaca 30-90 menit
   Cerpen: lamanya hanya 10 menit
    Persamaan antara novel dan cerpen, yaitu:
1) Keduanya sama-sama prosa baru
2) Mengandung unsure intrinsic
3) Sama-sama termasuk karya sastra
4) Sama-sama termasuk cerita fiksi

B.UNSUR INTRINSIK CERPEN
a.Tema
         Tema adalah inti atau pokok masalah yang mendominasi cerita. tema biasanya diambil dari dunia disekitar pengarang, baik yang dialami sendiri maupun orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Tema dapat bersumber pada pengalaman pengarang, pengamatan pada lingkungan, permasalahan kehidupan, dan sebagainya. Misalnya, tentang cinta, kesetiaan, ketakwaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan warisan, dan sebagainya. Penyajian tema dapat secara tesurat atau tersirat.
             Secara umum, tema diklasifikasikan menjadi:
1.Berdasarkan pokok pembicaraan
  1. Tema jasmaniah (physical). Tema ini berkaitan dengan keadaan jasmani manusia, yaitu mempunyai fokus pada manusia  sebagai molekul, zat, dan jasad.
  2. Tema organik (moral). Tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral manusia. Misalnya, tentang hubungan antara manusia, antar pria dan wanita.
  3. Tema sosial. Tema ini mencakup masalah sosial, yaitu hal-hal di luar masalah pribadi.
  4. Tema egoik. Tema ini mencakup reaksi-reaksi pribadi manusia sebagai individu yang senantiasa     menuntut pengakuan atas hak individualitasnya.
  5. Tema ketuhanan (Divine). Tema ini mencakup kondisi dan situasi manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan, yaitu hubungan antara manusia dengan tuhannya.

2.Berdasarkan ketradisian
  1. Tema tradisional. Tema ini sangat berkaitan dengan kejahatan dan kebenaran. Tema ini di sukai pembaca  karena akan menggambarkan bahwa kebenaran pada akhirnya selalu menang melawan kejahatan.
  2. Tema nontradisional. Tema ini mempunyai ide utama yang melawan arus atau tidak lazim. Dalam cerita yang mengambil tema ini, kadang mengecewakan pembaca karena jalan ceritanya tidak sesuai harapannya.

3.Berdasarkan cakupan
  1. Tema Pokok (Tema Mayor). Pada tema ini, makna pokok cerita yang menjadi gagasan umum tidak hanya terdapat dalam bagian tertentu, tetapi dalam keseluruhan bagian.
  2. Tema Tambahan (Tema Minor). Pada tema ini, makna pokok cerita yang menjadi gagasan umum hanya terdapat pada bagian tertentu.

b. Alur/plot
            Di dalam sebuah alur belum tentu terdapat plot, sebaliknya sebuah plot sudah pasti akan membentuk alur. Forster dalam Aspec of Novel mengartikan alur atau jalan cerita sebagai sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan urutan waktu. Atau peristiwa demi peristiwa yang susul menyusul. Sedangkan plot adalah hubungan kausalitas (sebab-akibat) sebuah peristiwa dengan peristiwa yang mendahuluinya atau peristiwa setelahnya. Bahasa sederhananya, hubungan sebab-akibat antarperistiwa dalam sebuah cerita.
             Unsur Pembangun Alur, yaitu:
1.Peristiwa
            Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan lainnya (Luxemburg dkk, 1992: 150). Berdasarkan fungsi terhadap pengembangan alur, peristiwa dapat dibedakan menjadi:
  1. Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang sangat mempengaruhi pengembangan plot.
  2. Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa fungsional dalam pengurutan penyajian cerita.
  3. Peristiwa acuan adalah peristiwa-peristiwa yang tidak secara langsung berhubungan dengan plot, tetapi lebih berkaitan dengan unsur-unsur lain seperti perwatakan atau suasana yang melingkupi batin seorang tokoh sebelum terjadi peristiwa penting.

2.Konflik
         Konflik memiliki pengertian pertarungan atau pertentangan antara dua hal yang menyebabkan terjadinya aksi reaksi. Pertentangan itu bisa berupa pertentangan fisik, ataupun pertentangan yang terjadi di dalam batin manusia. Stanton dalam An Introduction to Fiction membedakan konflik menjadi dua, yaitu:
  1. Konflik eksternal adalah pertentangan yang terjadi antara manusia dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.
  2. Konflik Internal adalah konflik yang terjadi di dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita. Pertentangan yang terjadi di dalam diri manusia.

3.Klimaks
              Menurut Stanton dalam An Introduction to Fiction, klimaks adalah saat konflik telah mencapai titik intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari kejadiannnya. Klimaks merupakan pertemuan antara dua hal yang dipertentangkan dan menentukan bagaimana konflik itu akan diselesaikan.
              Kaidah Pengembangan plot, yaitu:
  1. Kemasukakalan atau Plausibilitas, merupakan satu diantara kaidah-kaidah yang penting yang mengatur alur dalam fiksi. Singkatnya, plausibilitas memiliki pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
  2. Suspense. Suspense memiliki pengertian pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh protagonis atau yang diberi simpati oleh pembaca.
  3. Surprise. Alur sebuah cerita yang menarik tidak saja harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, tetapi juga mampu memberikan kejutan atau ketakterdugaan. Plot sebuah karya fiksi dikatakan memiliki sebuah kejutan apabila sesuatu yang dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan harapan pembaca.
  4. Keutuhan. Disamping ketiga hal yang sudah yang disebutkan di atas, salah satu tuntutan yang terpenting bagi plot adalah unity ‘keutuhannya’. Keutuhan memiliki pengertian keberkaitan unsur-unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik atau pengalaman kehidupan yang hendak disampaikan.

              Dilihat dari urutan peristiwanya, alur dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Alur maju (progresif)
2) Alur mundur (regresif)
3) Alur gabungan/campuran (progresif-regresif)
         Disamping beberapa penjelasan penahapan plot di atas, Aminuddin dalam Siswanto (2008 :159-160), menjelaskan tahapan alur berawal dari pengenalan, konflik, komplikasi,klimaks, peleraian, dan penyelesaian. Pengenalan adalah tahap peristiwa dalam sebuah cerita rekaan yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Konflik atau tikaian adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan dalam cerita rekaan. Komplikasi atau rumitan bagian tengah alur cerita rekaan yang mengembangkan tikaian. Klimaks adalah bagian alur cerita rekaan yang melukiskan puncak ketegangan, terutama dipandang dari segi tanggapan emosional pembaca. Klimaks merupakan puncak rumitan, yang diikuti oleh krisis atau titik balik. Peleraian adalah tahap peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan perkembangan lakuan kearah selesaian. Selesaian adalah tahap akhir suatu cerita. Dalam tahap ini semua masalah dapat diuraikan, kesalahpahaman dapat dijelaskan; rahasia dibuka. Ada dua penyelesaian yaitu terbuka dan tertutup. Selesaian terbuka diserahkan kepada pembaca. Dan selesaian tertutup adalah selesaian yang diberikan oleh pengarang/sastrawan.   
        Jika ditinjau dari segi criteria jumlah atau kuantitasnya, di kenal adanya plot tunggal dan plot jamak (Hariyanto, 2000:39). Suatu cerita dikatakan berplot tunggal, apabila cerita tersebut hanya memiliki atau mengandung sebuah plot dan plot itu bersifat primer atau utama. Plot tunggal biasanya terdapat pada cerpen pada umumnya. Dalam plot ini biasanya cerita hanya menmpilkan seorang tokoh protagonis. Cerita hanya mengikuti perjalanan hidup tokoh tersebut. Sedangkan dikatakan berplot jamak apabila cerita tersebut memiliki lebih dari satu plot. Dalam plot ini biasanya cerita hanya menampilkan lebih dari satu tokoh protagonis.
          Dalam kamus, istilah sastra terdapat alur bawahan, alur erat (ketat), alur longgar, dan alur menanjak. Alur bawahan merupakan Alur kedua atau tambahan yang disusupkan disela-sela bagian alur utama sebagai variasi. Alur bawahan merupakan lakuan tersendiri tetapi yang masih ada hubungannya dengan alur utama. Ada kalanya alur bawahan ini dimaksudkan untuk menimbulkan kontras, adakalanya sejalan dengan alur utama (Sudjiman, 1990: 4). Alur erat(ketat) merupakan Jalinan peristiwa yang sangat padu di dalam suatu karya sastra, kalau salah satu peristiwa ditiadakan, keutuhan cerita akan terganggu (Sudjiman, 1990: 4-5). Alur longgar merupakan Jalinan peristiwa yang tidak padu di dalam karya sastra, meniadakan salah satu peristiwa tidak akan menganggu jalan cerita (Sudjiman, 1990: 5). Sedangkan alur menanjak merupakan Jalinan peristiwa dalam satu karya sastra yang semakin menanjak sifatnya (Sudjiman, 1990: 5)

c. Tokoh dan Penokohan
1.Tokoh
         Tokoh merupakan pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin cerita, atau tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Tanpa tokoh alur tidak akan pernah sampai pada bagian akhir cerita. Ada tiga jenis tokoh bila dilihat dari sisi keterlibatannya dalam menggerakan alur, yaitu:
  1. Tokoh sentral merupakan tokoh yang amat potensial menggerakan alur. Tokoh sentral merupakan pusat cerita, penyebab munculnya konflik.
  2. Tokoh bawahan merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap prkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu.
  3. Tokoh latar merupakan tokoh yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap pengembangan alur. Kehadirannya hanyalah sebagai pelengkap latar, berfungsi menghidupkan latar.
        Tokoh dalam cetita fiksi juga dapat dibedakan atas tokoh utama dan tokoh tambahan atau pembantu, yaitu:
1.Tokoh utama, dengan indikasi/ciri:
   1) tokoh tersebut sering muncul;
   2) tokoh yang sering diberi komentar.
2.Tokoh tambahan/pembantu, dengan indikasi/ciri:
   1) tokoh yang mendukung tokoh utama;
   2) tokoh yang hanya diberi komentar alakadarnya.
              Secara keseluruhan tokoh terdiri atas sepuluh ragam, yaitu:
1.Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:
  1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
  2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

2.Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan menjadi:
  1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh yang taat norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupakan empati dari pembaca.
  2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu, sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.

3.Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
  1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.
  2. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi, ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.

4.Bedasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah   novel, tokoh dibedakan menjadi:
  1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan    atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).
  2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaannya.

5.Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
  1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaannya atau pekerjaannya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.
  2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

2.Penokohan
         Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan atau melukiskan tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Dalam penokohan, watak atau karakter seorang tokoh dapat dilihat dari tiga segi, yaitu melalui:
1) Dialog tokoh.
2) Penjelasan tokoh.
3) Penggambaran fisik.
              Ada dua jenis penokohan, yaitu:
  1. Secara langsung atau deskriptif/analitik, dimana pengarang langsung malukiskan atau menyebutkan secara terperinci bagaimana watak sang tokoh, bagaimana ciri-ciri fisiknya, apa pekerjaannya, dan sebagainya.
  2. Secara tidak langsung/dramatik, dimana pengarang melukiskan sifat dan ciri fisik sang tokoh melalui reaksi tokoh lain terhadap tokoh sentral, melalui gambaran lingkungan sekitar tokoh sentral, melalui aktivitas tokoh sentral, dan melalui jalan pikiran tokoh sentral, serta dapat diungkapkan melalui percakapan antar tokoh dalam cerita tersebut.
              Beberapa cara yang dapat digunakan pengarang untuk menggambarkan rupa, watak tokoh/pelaku:
  1. Melukiskan bentuk lahir pelaku;
  2. Melukiskan jalan pikiran pelaku atau apa yang terlintas dalam pikirannya;
  3. Melukiskan bagaimana reaksi pelaku terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya;
  4. Pengarang secara langsung menganalisis watak pelaku;
  5. Pengarang melukiskan keadaan sekitar pelaku;
  6. Pengarang melukiskan bagaimana pandangan-pandangan pelaku lain dalam cerita terhadap pelaku utama;
  7. Para pelaku lain dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelaku utama, sehingga secara tidak langsung pembaca dapat menangkap kesan segala sesuatu tentang pelaku utama.
            Penokohan terdiri atas tiga variasi, yaitu:
1)Teknik ekspositori atau teknik analitis adalah teknik yang pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Hal semacam ini biasanya terdapat pada tahap perkenalan.

2)Teknik dramatik adalah teknik pelikisan tokoh cerita yang pengarangnya tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Sifatnya lebih sesuai dengan sisi kkehidupan nyata. Jika teknik ekspositoris pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif.
a)Teknik Cakapan
     Teknik cakapan adalah teknik percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita yang  juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

b)Teknik Tingkah Laku
        Teknik tingkah laku adalah teknik yang menyarankan pada tindakan yang bersifat   nonverbal, fisik.

c)Teknik Pikiran dan Perasaan
      Teknik pikiran dan perasaan adalah teknik yang melintas dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal yang akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya jua.

d)Teknik Arus Kesadaran
       Teknik arus kesadaran (steam of consciousness) adalah teknik yang merupakan sebuah karya narasi yang berusaha  menangkap pandangan dan proses mental tokoh, tanggapan indera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, persaan, ingatan, harapan dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams, dalam Nurgiantoro 2002: 206).

e)Teknik  Reaksi Tokoh
        Teknik reaksi tokoh adalah suatu reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata dan sikap serta tingkah-laku orang lain dan sebagainya yang merupakan “rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain-lain.

f)Teknik Pelukisan Latar
        Suasana latar sekitar tokoh juga sering dipakai untuk melukiskan kediriannya. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagi teknik yang lain.

g)Teknik Pelukisan Fisik
       Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaanya, atau paling tidak, pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya keterkaitan itu.

3)Teknik identifikasi tokoh. Untuk mengenali secara lebih baik tokoh-tokoh cerita, kita perlu mengidentifikasi kedirian tokoh-tokoh secara cermat dengan usaha-usaha melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:
a)Prinsip Pengulangan
         Prinsip pengulangan adalah prinsip yang dapat menemukan dan mengidentifikasi adanya kesamaan sifat, sikap, watak, dan tingkah laku pada bagian-bagian berikutnya.
b)Prinsip Pengumpulan
        Prinsip pengumpulan adalah suatu prinsip yang dapat mengungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data kedirian yang “tercecer” diseluruh cerita tersebut.
c)Prinsip Kemiripan dan Pertentangan
     Identifikasi tokoh yang mempergunakan prinsip kemiripan dan pertentangan dilakukan dengan memperbandingkan antara seorang tokoh dengan tokoh lain dari cerita fiksi yang bersangkutan.

d.Latar/setting
       Latar/setting adalah tempat, waktu, dan suasana yangt melatarbelakangi terjadinya peristiwa dalam suatu cerita. Secara umum latar dibagi dalam:
  1. Latar tempat ialah tempat atau daerah terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Sangat mungkin latar tempat sebuah karya fiksi terdapat di dalam ruangan dan tidak menutup kemungkinan latar tempat terjadi di ruang lingkungan. Di jalanan atau di sebuah kota misalnya.
  2. Latar waktu ialah waktu terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Latar waktu bisa berupa   detik, menit, jam, jari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Tetapi juga, sangat mungkin pengarang tidak menentukan secara persis tahun, tanggal atau hari terjadinya peristiwa, namun hanya menyebutkan saat Hari Raya, Natal, tahun baru dan sebagainya yang pada akhirnya juga akan mengacu kepada waktu, seperti tanggal dan bulan tergantung latar tempat dalam cerita. Misalnya, tahun baru di Indonesia identik dengan 1 Januari, namun di Arab tahun baru lebih identik pada 1 Muharram.
  3. Latar  sosial ialah lingkungan hidup dan sistem kehidupan yang ada di tengah-tengah para tokoh dalam sebuah cerita. Pada umumnya, latar sosial berhubungan erat dengan tiga latar lainnya. Misalnya, seorang mahasiswa umumnya tinggal di kos dan hanya memiliki dua buah gelas di kamarnya dan seseorang bisa dipastikan menduduki kelas sosial yang tinggi dalam sistem kehidupan bila ia memiliki sopir dan pergi dengan alat transportasi mobil BMW.
         Peran latar terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
a)Latar fisik dan spiritual
        Membaca sebuah novel kita akan bertemu dengan lokasi tertentu seperti: nama kota, jalan, rumah, dan lain-lain tempat terjadinya pristiwa. Disamping itu, kita juga berurusan dengan hubungan waktu seperti: malam, siang, pukul, tanggal, keadaan geografis, atau kejadian yang menyaran pada waktu tipikal tertentu, dan sebagainya.

b)Latar netral dan Latar tipikal
       Latar netral tidak memiliki dan tidak mendiskripsikan sifat khas tertentu yang menonjol yang terdapat dalam sebuah latar, sesuatu yang mungkin dapat membedakannya dengan latar-latar lain. Sifat yang ditunjukan latar tersebut lebih bersifat umum terhadap hal yang sejenis, misalnya, desa, kota, hutan, pasar, sehingga hal tersebut dapat berlaku dimana saja.
       Latar tipikal memiliki dan menonjolkan sifat yang khas pada latar tertentu. Misalnya, pada saat membaca Pengakuan Pariyem, kita akan merasakan dominannya lingkungan sosial yang digambarkan, yaitu lingkungan masyarakat jawa. Dengan maksud agar pembaca terkesan dan dapat membandingkannya bahwa karya tersebut benar adanya dengan kenyataan realistisnya.

c)Penekanan unsur latar
         Penekanan unsur-unsur latar bermaksud untuk memperjelas suatu cerita, baik itu dari gaya bahasa, karakter tokoh, geografis, sosial budaya, dan sebagainya. Sehingga membuat pembaca mejadi lebih pekah atau lebih memahami bahan bacaannya.

d)Latar dan unsur fiksi yang lain
           Latar sangat erat kaitannya dengan unsur fiksi yang lain dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar dalam banyak hal akan mempengaruhi sifat-sifat tokoh. Bahkan bisa dikatakan bahwa sifat seseorang dibentuk oleh latarnya. Suatu contoh bisa kita lihat pada perbedaan sosial budaya, pola pikir, tingakah laku, dan yang lainya pada setiap tokoh.

e.Sudut Pandang/ point of view 
        Sudut pandang (titik pandang, pusat pengisahan) merupakan kedudukan atau posisi pencerita (narator)  dalam sebuah cerita. Ada empat macam kedudukan pengarang dalam cerita, yaitu:
  1. Pengarang sebagai tokoh utama: pengarang menuturkan cerita dirinya sendiri, pelaku    utamanya: aku/saya/kita: kata ganti orang pertama tunggal/jamak.
  2. Pengarang sebagai tokoh bawahan: pengarang menentukan cerita tentang tokoh utama sekaligus terlibat dalam cerita tersebut. Pelaku utamanya: Kau: kata ganti orang kedua tunggal/jamak.
  3. Pengarang sebagai pengamat: pengarang sebagai orang yang berada di luar cerita, ia menuturkan tokoh dari luar, tidak terlibat dalam cerita. pelaku utamanya: ia/dia/mereka: kata ganti orang ketiga tunggal/jamak.
  4. Campuran: kadang pengarang sebagai pengamat, tapi bisa juga sebagai tokoh utama/pembantu.

f.Amanat
        Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, akhir permasalahan ataupun jalan keluar dari permasalahan yang timbul dalam sebuah cerita.
Amanat terbagi atas dua, yakni:
1.Pesan Religius/Keagamaan
        Pesan religius/keagamaan menyatakan pesan keagamaan dari sesuatu sesuai dengan aturan agama yang ada. Unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah suatu keberadaan sastra itu sendiri.  Bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. 

2.Pesan Kritik Sosial
          Pesan kritik sosial yakni pesan berupa kritik sosial di mana pengarang memberikan kritikan atas kehidupan sosial di lingkungan tertentu. Sastra yang mengandung pesan kritik dapat juga disebut sebagai sastra kritik yang biasanya akan lahir di tengah masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang beres dalam kehidupan sosial dan masyarakat.
Nurgiyantoro, membagi amanat dalam dua bentuk, yaitu:
1.Penyampaian langsung
         Penyampaian langsung identik dengan cara pelukisan watak pelaku yang bersifat uraian, pengarang secara langsung mendeskripsikan perwatakan tokoh-tokoh dalam cerita. Pesan yang bersifat langsung biasanya terasa dipaksakan dan kurang koherensif dengan unsur-unsur yang lain. Hal itu bertujuan untuk memudahkan pembaca memahami alur atau jalan cerita. Pengarang seakan-akan menguraikan pembaca karena secara langsung memberikan nasehat, tetapi sebenarnya tujuan pengarang melakukan hal itu adalah untuk memudahkan pembaca. Pembaca tidak lagi bersusah payah menafsirkan pesan yang disampaikan pengarang, karena bagaimanapun penafsiran pembaca tentu berlainan dengan maksud pengarang (Aminuddin, 1997:48).
           Karya satara yang demikian kurang mengasah kemampuan intelektual pembaca.  Nilai-nilai yang ingin disampaikan pun kurang pada jiwa pembaca.  Oleh karena itu, pada umumnya pembaca kurang menyukai cerita dengan bentuk penyampaian pesan yang demikian ini. Pembaca lebih menyukai cerita yang menuntut dan memaksakannya mengeluarkan kemampuan intelektualnya.
2.Penyampaian tak langsung
       Penyampaian tak langsung adalah penyampaian pesan secara tersirat, terpadu dalam unsur cerita lainnya.  Jika dibandingkan dengan teknik pelukisan watak tokoh, cara ini sejalan dengan teknik ragaan. Yang ditampilkan dalam cerita adalah peristiwa-peristiwa, konflik, sikap dan tingkah laku para tokoh dalam menghadapi peristiwa dan konflik itu, baik yang terlihat dalam tingkah laku verbal, fisik, maupun yang hanya terjadi dalam pikiran dan perasaannya. Sebaliknya, dilihat dari pembaca, jika ingin memahami dan atau menafsirkan pesan itu, harus melakukannya berdasarkan cerita, sikap, dan tingkah laku para tokoh tersebut.
Dalam menyampaikan pesannya, pengarang tidak serta merta, tetapi hanya menyiratkan, dan pembaca bebas menafsirkan pesan tersebut melalui teks yang dibaca.  Hasilnya, nilai-nilai yang ingin ditafsirkan pengarang lebih terserap karena daya pikir kritisnya lebih memuaskan batinnya, dan lebih mengendap dalam jiwanya.  Teknik ini menampilkan peristiwa-peristiwa, konflik, dan tingkah laku para tokoh dalam menyiasati hidupnya, baik yang tampak dalam keseharian ataupun dalam pikiran dan perasaannya.  Cara ini mungkin kurang komunikatif, karena pembaca belum tentu dapat menangkap apa sesungguhnya yang dimaksud oleh pengarang.  Banyak kemungkinan terjadinya salah tafsir oleh pembaca.  Banyaknya kemungkinan terjadinya penafsiran pembaca terhadap karya-karya sastra dipandang sebagai suatu kelebihan dari karya itu (Nurgiyantoro, 1998:339).  Hal itu pulalah yang menyebabkan suatu karya sastra tidak pernah ketinggalan zaman.

g.Gaya Bahasa
        Gaya bahasa adalah cara atau teknik mengungkapkan pikiran dan perasan alami bentuk lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa yang khas sehingga dapat memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis, serta dapat menghasilkan suatu pengertian yang jelas dan menarik bagi para pembaca.
Gaya bahasa dapat dibedakan menjadi lima kelompok, yaitu:
 1.Gaya bahasa perbandingan

1)Alegori yaitu gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua buah keutuhan berdasarkan persamaannya secara menyeluruh.
Contoh :
Kami semua berdoa, semoga dalam mengarungi samudra kehidupan ini, kamu berdua akan sanggup menghadapi badai dan gelombang.

2)Litotes yaitu gaya bahasa perbandingan yang menyatakan sesuatu dengan memperendah derajat keadaan sebenarnya, atau yang menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dari yang dimaksud untuk merendahkan diri.
Contoh :
Dari mana orang seperti saya ini mendapat uang untuk membeli barang semahal itu.
Silakan, jika kebetulan lewat, Saudara mampir ke pondok saya.

3)Metafora yaitu gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal yang berbeda berdasarkan persamaannya.
Contoh :
Gelombang demonstrasi melanda pemerintah orde lama.
Semangat juangnya berkobar, tak gentar menghadapi musuh.

4)Personifikasi yaitu gaya babasa perbandingan. Benda-benda mati atau benda-benda hidup selain manusia dibandingkan dengan manusia, dianggap berwatak dan berperilaku seperti manusia.
Contoh :
Bunyi lonceng memanggil-manggil siswa untuk segera masuk kelas.
Nyiur melambai-lambai di tepi pantai.

5)Simile yaitu gaya bahasa perbandingan yang mempergunakan kata-kata pembanding (seperti, laksana, bagaikan, ibarat, dan lain sebagainya) dengan demikian pernyataan menjadi lebih jelas.
Contoh :
Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam.
Wajahnya seperti rembulan.

6)Simbolik yaitu gaya bahasa kiasan dengan mempergunakan lambang-lambang atau simbol-simbol untuk menyatakan sesuatu.
Contoh :
Janganlah kau menjadi bunglon.

7)Tropen yaitu gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang maknanya sejajar dengan pengertian yang dimaksudkan.
Contoh :
Seharian ia berkubur di dalam kamarnya.
Bapak Presiden terbang ke Denpasar tadi pagi.

2.Gaya bahasa sindiran
1)Inuendo yaitu gaya bahasa sindiran yang mempergunakan pernyataan yang mengecilkan kenyataan sebenarnya.
Contoh :
la menjadi kaya raya lantaran mau sedikit korupsi.

2)Ironi yaitu gaya bahasa sindiran paling halus yang menggunakan kata-kata yang artinya justru sebaliknya dengan maksud pembicara.
Contoh :
”Eh, manis benar teh ini?” (maksudnya: pahit).

3)Sarkasme yaitu gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata yang kasar. Biasanya gaya bahasa ini dipakai untuk menyatakan amarah.
Contoh :
”Jangan coba-coba mengganggu adikku lagi, Monyet!”
“Dasar goblok! Sudah berkali-kali diberi tahu, tetap saja tidak mengerti!”

4)Sinisme yaitu gaya bahasa sindiran semacam ironi, tetapi agak lebih kasar.
Contoh :
”Hai, harum benar baumu? Tolong agak jauh sedikit!”

3.Gaya bahasa penentangan
1)Anakronisme yaitu gaya bahasa yang mengandung uraian atau pernyataan yang tidak sesuai dengan sejarah atau zaman tertentu. Misalnya menyebutkan sesuatu yang belum ada pada suatu zaman.
Contoh :
Mahapatih Gadjah Mada menggempur pertahanan Sriwijaya dengan peluru kendali jarak menengah.

2)Kontradiksio in terminis yaitu gaya bahasa yang mengandung pertentangan, yakni apa yang dikatakan terlebih dahulu diingkari oleh pernyataan yang kemudian.
Contoh :
Suasana sepi, tak ada seorang pun yang berbicara, hanya jam dinding yang terus kedengaran berdetak-detik.

3)Okupasi yaitu gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan dan penjelasan.
Contoh :
Sebelumnya dia sangat baik, tetapi sekarang menjadi berandal karena tidak ada perhatian dari orang tuanya.
Ali sebenarnya bukan anak yang cerdas, namun karena kerajinannya melebihi kawan sekolahnya, dia mendapat nilai paling tinggi.

4)Paradoks yaitu gaya bahasa yang mengandung dua pernyataan yang bertentangan, yang membentuk satu kalimat.
Contoh :
Dengan kelemahannya, wanita mampu menundukkan pria.
Tikus mati kelaparan di lumbung padi yang penuh berisi.

4. Gaya bahasa penegasan
1)Alusio yaitu gaya bahasa yang menggunakan peribahasa yang maksudnya sudah dipahami umum.
Contoh :
Dalam bergaul hendaknya kau waspada.
Jangan terpedaya dengan apa yang kelihatan baik di luarnya saja.
Segala yang berkilau bukanlah berarti emas.

2)Antitesis yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya bertentangan.
Contoh :
Tinggi-rendah harga dirimu bukan elok tubuhmu yang menentukan, tetapi kelakuanmu.

3)Antiklimaks yaitu gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin rendah tingkatannya.
Contoh :
Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, anaknya dan sekarang cucunya tak luput dari penyakit keturunan itu.

4)Klimaks yaitu gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin tinggi tingkatannya.
Contoh :
Di dusun-dusun, di desa-desa, di kota-kota, sampai ke ibu kota, hari proklamasi ini dirayakan dengan meriah.

5)Antonomasia yaitu gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata tertentu untuk menggantikan nama seseorang. Kata-kata ini diambil dari sifat-sifat yang menonjol yang dimiliki oleh orang yang dimaksud.
Contoh :
Si Pelit den Si Centil sedang bercanda di halaman rumah Si Jangkung.

6)Asindeton yaitu gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh :
Buku tulis, buku bacaan, majalah, koran, surat-surat kantor semua dapat anda beli di toko itu.

7)Polisindeton yaitu gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung (kebalikan asindeton).
Contoh :
Buku tulis, majalah, dan surat-surat kantor dapat di beli di toko itu.

8)Elipsis yaitu gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips (kalimat tak lengkap), yakni kalimat yang predikat atau subjeknya dilesapkan karena dianggap sudah diketahui oleh lawan bicara.
Contoh :
“Kalau belum jelas, akan saya jelaskan lagi.”
“Saya khawatir, jangan-jangan dia ….”

9)Eufemisme yaitu gaya bahasa atau ungkapan pelembut yang digunakan untuk tuntutan tatakrama atau menghindari kata-kata pantang (pamali, tabu), atau kata-kata yang kasar dan kurang sopan.
Contoh :
Putra Bapak tidak dapat naik kelas karena kurang mampu mengikuti pelajaran.
Pegawai yang terbukti melakukan korupsi akan dinonaktifkan.

10)Hiperbolisme yaitu gaya bahasa penegasan yang menyatakan sesuatu hal dengan melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya.
Contoh :
Suaranya mengguntur membelah angkasa.
Air matanya mengalir menganak sungai.

11)Interupsi yaitu gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau frase yang disisipkan di tengah-tengah kalimat.
Contoh :
Saya, kalau bukan karena terpaksa, tak mau bertemu dengan dia lagi.

12)Inversi yaitu gaya bahasa dengan menggunakan kalimat inversi, yakni kalimat yang predikatnya mendahului subjek. Hal ini sengaja dibuat untuk memberikan ketegasan pada predikatnya.
Contoh :
Pergilah ia meninggalkan kampung halamannya untuk mencari harapan baru di kota.

13)Koreksio yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata pembetulan untuk mengoreksi (menggantikan kata yang dianggap salah).
Contoh :
Setelah acara ini selesai, silakan saudara-saudara pulang. Eh, maaf, silakan saudara-saudara mencicipi hidangan yang telah tersedia.

14)Metonimia yaitu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata atau sebuah nama yang berhubungan dengan suatu benda untuk menyebut benda yang dimaksud. Misal, penyebutan yang didasarkan pada merek dagang, nama pabrik, nama penemu, dan lain sebagainya.
Contoh :
Ayah pergi ke Bandung mengendarai Kijang.
Udin mengisap Gentong, Husni mengisap Gudang Garam.

15)Paralelisme yaitu gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi. Pengulangan di bagian awal dinamakan anafora, sedang di bagian akhir disebut epifora.
Contoh Anafora :
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus

Contoh Epifora :
Rinduku hanya untukmu
Cintaku hanya untukmu
Harapanku hanya untukmu

16)Pleonasme yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu karena artinya sudah terkandung dalam kata sebelumnya.
Contoh :
Benar! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa Tono berkelahi di tempat itu.
Dia maju dua langkah ke depan.

17)Parafrase yaitu gaya bahasa penguraian dengan menggunakan ungkapan atau frase yang lebih panjang daripada kata semula. Misal, pagi-pagi digantikan ketika sang surya merekah di ufuk timur; materialistis diganti dengan gila harta benda.
Contoh :
”Pagi-pagi Ali pergi ke sawah.” dijadikan “Ketika mentari membuka lembaran hari, anak sulung Pak Sastra itu melangkahkan kakinya ke sawah.”

18)Repetisi yaitu gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang sebuah kata berturut-turut dalam suatu wacana. Gaya bahasa jenis ini sering dipakai dalam pidato atau karangan berbentuk prosa.
Contoh :
Harapan kita memang demikian, dan demikian pula harapan setiap pejuang.
Sekali merdeka, tetap merdeka!

19)Retoris yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat tanya, tetapi sebenannya tidak bertanya.
Contoh :
Bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan?
Inikah yang kau namakan kerja?

20)Sinekdoke yaitu gaya bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu : (a) Pars pro toto (gaya babasa yang menyebutkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan) dan (b) Totem pro parte (gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian).
Contoh Pars pro toto :
Setiap kepala diwajibkan membayar iuran Rp1.000,00.
Sudah lama ditunggu-tunggu, belum tampak juga batang hidungnya.

Contoh Totem pro parte :
Cina mengalahkan Indonesia dalam babak final perebutan Piala Thomas.

21)Tautologi yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sama artinya dalam satu kalimat.
Contoh :
Engkau harus dan wajib mematuhi semua peraturan.
Harapan dan cita-citanya terlalu muluk.

C.UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DRAMA
1.Pengertian Drama
         Drama merupakan karya sastra yang di tulis dalam bentuk percakapan atau dialog yang dipertunjukkan oleh tokoh di atas pentas di hadapan para penonton. Drama adalah karya sastra yang bertujuan untuk menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan dan dialog. Drama memiliki beberapa ciri, diantaranya:
1) Berbentuk dialog
2) Ada pelakunya
3) Untuk dipentaskan
4) Ada penontonnya

2.Unsur Intrinsik Drama
1.Tema
      Tema adalah ide dasar atau pijakan pokok penggambaran cerita. Tema drama yang baik harus berdasarkan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dipahami benar oleh penulis dan mudah diterima oleh pembaca naskah drama atau penonton pertunjukan drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokohnya. Tema digali oleh pengarang melalui renungan mendalam atas pengalaman jiwanya, kemudian dituangkan dalam dialog-dialog yang tepat dan kuat. . Tema drama misalnya tentang kehidupan, persahabatan, kesedihan, kemiskinan, dan lain sebagainya.

2. Tokoh dan Penokohan
       Tokoh dalam drama adalah pemegang peran dalam drama. Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Sesuai perannya dalam jalan cerita, tokoh drama dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

1)Tokoh Utama (Protagonis)
        Tokoh utama (protagonis) yaitu tokoh yang memiliki kehendak tertentu dalam cerita. Biasanya kehendak yang baik atau kabijakan. Oleh sebab itu, tokoh ini disebut sebagai tokoh karakter baik.

2)Tokoh Penentang (Antagonis)
         Tokoh penentang (antagonis) yaitu tokoh yang menentang kehendak tokoh utama. Tokoh ini sering disebut sebagai tokoh berkarakter jahat.

3)Tokoh Penengah (Tritagonis)
          Tokoh penengah (tritagonis) yaitu tokoh yang perannya menengahi pertikaian antara tokoh utama dan tokoh penentang.
          
                Ada tiga jenis tokoh bila dilihat dari sisi keterlibatannya dalam menggerakan alur, yaitu:
  1. Tokoh sentral merupakan tokoh yang amat potensial menggerakan alur. Tokoh sentral merupakan pusat cerita, penyebab munculnya konflik.
  2. Tokoh bawahan merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap prkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu.
  3. Tokoh latar merupakan tokoh yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap pengembangan alur. Kehadirannya hanyalah sebagai pelengkap latar, berfungsi menghidupkan latar.
           Secara keseluruhan tokoh terdiri atas sepuluh ragam, yaitu:
1)Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:
  1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
  2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

2)Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan menjadi:
  1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh yang taat norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupakan empati dari pembaca.
  2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu, sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.

3)Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
  1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.
  2. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi, ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.

4)Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita, tokoh dibedakan menjadi:
  1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan    atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).
  2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaannya.

5) Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
  1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaannya atau pekerjaannya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.
  2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.
            Penokohan adalah pemilihan nama tokoh, watak, dan peran yang ditampilkan. Penokohan harus sesuai dengan tema, amanat, latar penceritaan agar tidak terkesan janggal. Sebagai proyeksi realita, penokohan dan perwatakan hendaklah wajar dan alamiah. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan. Juga dapat dilihat pada dialog, tingkah laku, cara berpakaian, jalan pikiran, atau ketika tokoh itu berhubungan dengan tokoh-tokoh lainnya.

3. Dialog
           Dialog adalah percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam drama. Dialog dapat melancarkan cerita atau lakon dan mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain dan berfungsi dalam menggerakan cerita dan melihat watak atau kepribadian tokoh cerita tersebut. Dialog dapat disebut sebagai nyawa cerita dan dialog yang terlalu panjang, tidak jelas, tanpa ekspresi, hafalan dan kata-katanya kurang berisi, jelas akan merusak drama. Kekuatan kata, vokal, dan ekspresi sangat penting. Oleh sebab itu, dialog dalam drama harus memenuhi dua tuntutan penting, yaitu dialog harus turut menunjang gerak laku tokohnya, dan dialog yang diucapkan di atas pentas lebih tajam dan tertib daripada ujaran sehari-hari.
          Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan).

4. Plot/alur
          Plot/alur adalah rangkaian peristiwa dalam konflik yang dijalin dengan saksama dan menggerakan jalan cerita. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Jalan cerita lebih menarik apabila tidak bisa ditebak sebelumnya oleh pembaca atau penonton, sehingga mereka mengikutinya sampai selesai.
            Dalam alur terdapat bagian terpenting, yaitu klimaks atau puncak ketegangan konflik. Klimaks harus tajam, agar misi drama tercapai. Drama yang datar tidak menarik. Adapun bagian-bagian plot (unsur pembentuk alur) drama sebagai berikut:
  1. Eksposisi (pelukisan awal), yaitu bagian cerita yang bertujuan memperkenalkan cerita, tokoh, dan latar drama agar penonton memperoleh gambaran drama yang ditontonnya.
  2. Konflik, yaitu keadaan di mana tokoh terlibat dalam suatu pokok permasalahan. Pada bagian inilah awal mula terjadinya insiden pertikaian.
  3. Komplikasi (pertikaian), yaitu bagian cerita yang mengisahkan persoalan baru sebagai akibat konflik antartokoh.
  4. Klimaks (puncak ketegangan), yaitu peristiwa puncak atau puncak konflik.
  5. peleraian, yaitu tahap peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan perkembangan lakuan kearah selesaian.
  6. Penyelesaian (happy ending/akhir bahagia, sad ending/ akhir sedih), yaitu tahap akhir suatu cerita.
        Ada dua penyelesaian dalam alur cerita yaitu terbuka dan tertutup. Selesaian terbuka diserahkan kepada penonton. Dan selesaian tertutup adalah selesaian yang diberikan oleh pengarang/sastrawan.  Dilihat dari urutan peristiwanya alur dibagi menjadi tiga bagian, yaitu alur maju (progresif), alur mundur (regresif), dan alur gabungan/campuran (progresif-regresif). Namun, dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan maju-mundurnya sebuah ceita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur yang membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Jadi, sudah pasti alur dalam drama itu adalah alur maju. Dalam alur, juga dikenal istilah sekuen. Sekuen yaitu ringkasan yang di buat pada bagian cerita. Hal ini dapat terjadi pada saat ada perubahan, seperti perubahan waktu, perubahan tempat, perubahan cerita, dan lain sebagainya.

5. Latar/setting
       Latar/setting adalah keterangan atau gambaran tentang tempat/ruang, waktu, dan suasana berlangsungnya peristiwa dalam drama. Latar drama sesuai dengan jalan cerita dan dipilih yang mudah dipentaskan agar tetap sepeti latar aslinya. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu, yang seolah-olah sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17). Kualitas latar drama perlu didukung oleh benda-benda atau perabot dan bahasa yang digunakan.

6. Petunjuk Laku
         Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku.

7. Amanat
        Amanat/pesan adalah ajaran moral/pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca/penonton melalui karyanya. Amanat merupakan nilai implisit dalam cerita yang harus di cari penonton. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat) dan bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat).  Drama yang baik hendaknya mengandung pesan kemanusiaan, sehingga mampu mengembalikan manusia kepada sifat-sifat kebaikannya.

3. Unsur Ekstrinsik Drama
             Menurut  Tjahyono (1985), unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat mempengaruhi karya sastra tersebut. Unsur ekstrinsik pada karya sastra merupakan wujud murni pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Adapun unsur ekstrinsik dalam drama terdiri atas empat bagian, yaitu:
1)Nilai Sosial-budaya
           Nilai sosial-budaya adalah nilai yang berkaitan dengan norma yang ada di dalam masyarakat. Nilai sosial-budaya ini berhubungan dengan nilai peradaban kita sebagai manusia. Karena budaya mempunyai makna pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar di ubah, dan sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang/ beradab/ maju, maka nilai-nilainya pun berkembang sesuai dengan masalah-masalah yang terjadi pada manusia.
2)Nilai Moral
            Nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti/susila atau baik buruk tingkah laku.
3)Nilai Agama/religius
              Nilai agama/religius adalah nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.
4)Nilai Ekonomi
              Nilai ekonomi adalah nilai yang berkaitan dengan perekonomian.
5)Nilai Pendidikan
             Nilai pendidikan adalah nilai yang berkaitan dengan kependidikan.


DAFTAR PUSTAKA

http://adnandoang.blogspot.com/kajian-prosa-fiksi.

http://dramakreasi.blogspot.com/2010/04/unsur-unsur-intrinsik-drama.html#ixzz1uzwgMNUS/ unsur-unsur-intrinsik-drama.

http://unyilunyil12.blogspot.com/unsur ekstrinsik cerpen.

http://www.e-dukasi.net/script/download.php?type=MP&id=340/unsur intrinsik drama.

http://www.scribd.com/doc/30874842/35/B-Unsur-Intrinsik-dan-Unsur-Ekstrinsik-Drama

Rizza Aria Ferdian. 2011. Kajian Prosa Fiksi dan Unsur Intrinsik. http://rizza-af-guruindo.blogspot.com/

Tujiyono. Unsur-unsur Intrinsik Drama. http://smpn3yk.sch.id/lampiran_guru/15_UNSUR%20INTRINSIK%20DRAMA.doc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar